Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus tertekan sepanjang sepekan terakhir hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada pantauan Kamis (4/6/2026), rupiah bahkan mencapai level terlemah sepanjang sejarah yakni sebesar Rp 18.028 per dollar AS (Popmama.com, 4/6/2026), melanjutkan tren pelemahan yang secara akumulatif cukup dalam sejak awal tahun. Bank Indonesia mencatat secara year to date melemah -7,44%, dan menegaskan bahwa koreksi ini sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan lain seperti ringgit Malaysia, dong Vietnam, dolar Taiwan, hingga yuan Tiongkok yang turut terdepresiasi (CNBC Indonesia, 4/6/2026). Menurut otoritas moneter, tekanan terhadap rupiah dipicu berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah, ditambah peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas (Suara.com, 1/6/2026). Dari sisi makroekonomi, salah satu pemicu struktural adalah transaksi berjalan Indonesia yang mencatat defisit, yang menandakan kebutuhan pembayaran ke luar negeri melampaui penerimaan (Babelinsight.id/Detik Finance, 22/5/2026). Merespons gejolak tersebut, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar dengan intensitas yang lebih tinggi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan bahwa intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder (Koran Jakarta, 4/6/2026). Selain intervensi langsung, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter agar tetap menarik bagi investor dan mampu menjaga aliran modal masuk ke aset domestik (Koran Jakarta, 4/6/2026). Bank sentral pun menerapkan langkah pengendalian permintaan dengan pembatasan untuk pembelian Dolar di pasar domestik, kalau tidak punya underlying, sembari menjaga kecukupan likuiditas rupiah di pasar uang dan perbankan (Babelinsight.id, 22/5/2026). BI juga menekankan bahwa kondisi pelemahan saat ini berbeda dengan krisis moneter 1997–1998, dan menegaskan komitmennya menstabilkan rupiah “around the world, around the clock” demi menjaga kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap perekonomian nasional (Suara.com, 1/6/2026).
