Rabu, 22 Juli 2026 “Pena adalah jembatan menuju peradaban.” Alinea-Cordova

Berpartisipasi dalam Membangun Peradaban Bangsa

Opini

Menavigasi Pendidikan Islam di Era Kecerdasan Buatan

Dok. alinea-cordova.com

Di tengah derasnya arus digital, ada satu pemandangan yang hampir menjadi bagian dari keseharian generasi muda saat ini: tangan yang sibuk menggulir layar (scroll), jari yang cepat mengetik kata kunci (search), dan berbagai jawaban yang muncul hanya dalam hitungan detik. Bagi generasi Z, dunia digital bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan ruang hidup yang menyatu dengan aktivitas belajar, bekerja, hingga berinteraksi sosial. Di tengah realitas tersebut, pendidikan Islam menghadapi sebuah pertanyaan penting: bagaimana menyiapkan generasi yang cakap memanfaatkan teknologi, tetapi tetap menjaga nilai-nilai keislaman dan karakter yang kuat?

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara manusia memperoleh informasi dan pengetahuan. Jika dahulu seseorang harus membuka banyak buku untuk mencari jawaban, kini berbagai informasi dapat diperoleh melalui mesin pencari atau aplikasi berbasis AI dalam waktu yang sangat singkat. Teknologi seperti ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform pembelajaran cerdas mulai menjadi teman belajar bagi pelajar dan mahasiswa. Bahkan tidak sedikit tugas sekolah dan kuliah yang kini diselesaikan dengan bantuan AI.

Fenomena ini tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif maupun sepenuhnya positif. AI pada dasarnya hanyalah alat. Dampaknya akan sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Dalam konteks pendidikan Islam, kehadiran AI justru membuka peluang besar untuk melakukan transformasi pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

Pendidikan Islam dan Tantangan Digital

Salah satu tantangan terbesar pendidikan Islam saat ini adalah bagaimana menjembatani kesenjangan antara tradisi keilmuan Islam yang kaya dengan karakteristik generasi digital yang serba cepat. Banyak peserta didik merasa kesulitan untuk fokus membaca teks panjang, sementara mereka terbiasa menerima informasi dalam bentuk visual, audio, maupun video singkat. Akibatnya, proses pembelajaran yang hanya mengandalkan metode ceramah sering kali kurang mampu menarik perhatian mereka secara optimal.

Di sinilah teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya. Materi-materi keislaman yang selama ini dianggap berat dapat disajikan dengan pendekatan yang lebih interaktif melalui berbagai platform digital. Pembelajaran tafsir, hadis, sejarah Islam, hingga bahasa Arab dapat diperkaya dengan video animasi, simulasi, kuis interaktif, dan teknologi AI yang mampu memberikan umpan balik secara langsung kepada peserta didik.

Sebagai contoh, saat mempelajari bahasa Arab, mahasiswa tidak lagi harus menunggu dosen untuk mengoreksi seluruh latihan yang mereka kerjakan. Dengan bantuan AI, kesalahan tata bahasa dapat diidentifikasi secara otomatis sehingga proses belajar menjadi lebih cepat dan efektif. Demikian pula dalam pembelajaran Al-Qur’an, berbagai aplikasi saat ini mampu membantu pengguna memperbaiki pelafalan huruf, mengenali kesalahan tajwid, bahkan memantau perkembangan hafalan secara berkala.

Dari perspektif manajemen pendidikan Islam, perkembangan ini merupakan peluang yang sangat berharga. Selama ini banyak lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan dengan sumber daya yang terbatas. AI dapat membantu meningkatkan efisiensi berbagai aktivitas akademik dan administratif, mulai dari pengelolaan data siswa, evaluasi pembelajaran, hingga penyusunan laporan akademik. Dengan demikian, tenaga pendidik dapat lebih fokus pada tugas utamanya, yaitu membimbing dan membentuk karakter peserta didik.

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan. Kemudahan memperoleh jawaban sering kali membuat peserta didik kurang terbiasa berpikir mendalam. Tidak sedikit mahasiswa yang langsung meminta AI menyelesaikan tugas tanpa terlebih dahulu membaca sumber referensi atau memahami substansi permasalahan yang sedang dibahas. Jika kondisi ini terus berlangsung, kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif dapat mengalami penurunan.

            Padahal dalam tradisi pendidikan Islam, proses mencari ilmu bukan hanya soal menemukan jawaban, tetapi juga tentang perjalanan intelektual untuk memahami makna di balik pengetahuan tersebut. Para ulama terdahulu menempuh perjalanan panjang demi memperoleh ilmu. Mereka membaca, berdiskusi, mengkritisi, dan merefleksikan berbagai pemikiran sebelum sampai pada sebuah kesimpulan. Semangat inilah yang perlu tetap dijaga meskipun teknologi semakin canggih.

AI mampu memberikan informasi dengan cepat, tetapi tidak mampu menggantikan proses pembentukan kebijaksanaan. Teknologi dapat menjawab pertanyaan tentang apa dan bagaimana, tetapi belum tentu mampu menjawab mengapa suatu nilai harus dijaga dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata. Di sinilah peran guru, dosen, dan para pendidik tetap menjadi sangat penting.

Dalam pendidikan Islam, guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan teladan yang memberikan contoh nyata tentang akhlak, integritas, dan tanggung jawab. Hubungan antara pendidik dan peserta didik tidak dapat digantikan oleh algoritma atau mesin secanggih apa pun. Oleh karena itu, kehadiran AI seharusnya diposisikan sebagai pendukung proses pendidikan, bukan sebagai pengganti manusia.

Selain itu, pendidikan Islam perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap literasi digital. Generasi muda harus dibekali kemampuan untuk memilah informasi, memverifikasi sumber, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Tidak semua informasi yang dihasilkan AI benar, lengkap, atau sesuai dengan perspektif Islam. Kemampuan berpikir kritis menjadi kunci agar peserta didik tidak menerima setiap jawaban secara mentah tanpa melakukan proses verifikasi.

Di era digital, kesalehan juga memiliki dimensi yang semakin luas. Menjadi pribadi yang shalih tidak hanya ditunjukkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui cara seseorang menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab. Ketika media sosial sering digunakan untuk menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, atau konten yang merusak moral, pendidikan Islam memiliki tanggung jawab untuk menanamkan etika digital yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Karena itu, tujuan pendidikan Islam pada era kecerdasan buatan tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang mampu menggunakan teknologi. Yang lebih penting adalah melahirkan generasi yang mampu mengendalikan teknologi dengan nilai-nilai moral yang kuat. Generasi yang tidak hanya mahir melakukan scroll dan search, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang membimbing setiap aktivitas digitalnya.

“Menjadi pribadi yang shalih tidak hanya ditunjukkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui cara seseorang menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab”

Pada akhirnya, masa depan pendidikan Islam tidak terletak pada pilihan antara menerima atau menolak AI. Pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana memanfaatkan teknologi untuk memperkuat tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Teknologi akan terus berkembang, algoritma akan semakin canggih, dan dunia digital akan semakin kompleks. Namun kebutuhan manusia akan nilai, akhlak, dan kebijaksanaan tidak akan pernah berkurang. Di tengah gelombang kecerdasan buatan yang terus bergerak cepat, pendidikan Islam perlu hadir sebagai kompas yang memberikan arah. Generasi muda harus dibimbing agar mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas ilmu pengetahuan, meningkatkan produktivitas, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Dengan demikian, budaya scroll dan search yang menjadi ciri generasi digital dapat berjalan beriringan dengan semangat menjadi pribadi yang shalih. Itulah navigasi yang sesungguhnya dibutuhkan pendidikan Islam di era kecerdasan buatan.

Nurul Hidayah adalah Dosen pada STAI Jajar Islamic Center Surakarta. Sekarang sedang mengikuti Studi Program Doktor di UIN Raden Mas Said Surakarta.

Author

Tinggalkan Tanggapan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *