Rabu, 22 Juli 2026 “Pena adalah jembatan menuju peradaban.” Alinea-Cordova

Berpartisipasi dalam Membangun Peradaban Bangsa

Agama

KETIKA PESANTREN TERJEPIT DI ANTARA TRADISI DAN MODERNISASI

Pukul 04.30, lampu teplok temaram menerangi langgar. Suara santri berdegup membaca: “Al-muqtashodu fil ‘ilmi huwa al-‘ilmu al-ladzī yufhamu bihi maqsudu al-Syāri‘” dari kitab Fathul Qarib yang kertasnya sudah kuning kecokelatan, pinggirannya bolong karena gigitan rayap. Itu Kitab Kuning. Simbol sanad, simbol kesabaran, simbol peradaban pesantren selama berabad-abad. Pukul 08.00, layar HP menyala. Notifikasi WhatsApp grup kelas masuk: “Deadline presentasi Canva + video TikTok dakwah dikumpul jam 23.59. Link Gmeet jam 19.00”. Sinyal 4G naik-turun. Itu Wi-Fi. Simbol kecepatan, simbol tuntutan zaman, simbol kurikulum Merdeka yang menuntut output konkret. Di antara dua titik waktu itu, pesantren modern berdiri dengan satu kaki di tradisi dan satu kaki di disrupsi. Pertanyaan yang muncul bukan lagi “mana yang lebih penting?”, tapi “santri harus mengorbankan yang mana?”. Judul “Kitab Kuning vs Wi-Fi” memang provokatif. Tapi inilah dilema nyata yang hari ini membelah ruang kelas, kamar santri, bahkan ruang musyawarah para kiai. Artikel ini tidak bermaksud memilih pemenang. Karena jika salah satu kalah, maka pesantrenlah yang rugi.

Dilema Waktu: 24 Jam yang Terlalu Sempit

Santri hari ini hidup dalam tiga dunia sekaligus. Pagi sampai siang mereka duduk di bangku Madrasah Aliyah atau SMA, mengejar UTBK, asesmen, dan rapor. Sore sampai malam mereka mondok di majelis, menyetor sorogan Jurumiyah, Imrithi, lalu Fathul Mu’in. Tengah malam sampai subuh, banyak yang melek untuk tugas sekolah, edit video dakwah, atau sekadar “war” grup angkatan. Hasilnya bisa ditebak: mata ngantuk saat bandongan, pikiran kosong saat ujian sekolah. Kiai mengeluh santri sekarang “cepat lupa”. Guru sekolah mengeluh santri “tidak fokus”. Padahal bukan karena malas atau bodoh. Otak mereka dipaksa multitasking di dua sistem pendidikan yang jam, metode, bahkan filosofinya berbeda. Kitab Kuning menuntut tamkin dan mudzakarah berulang. Wi-Fi menuntut update dan deadline cepat. Ketika keduanya dipaksa jalan beriringan tanpa jeda, yang terjadi bukan sinergi, tapi kelelahan kronis.Dulu santri cukup menghafal Alfiyah 1000 bait selama 3 tahun. Sekarang, dalam 3 tahun itu ia juga dituntut lulus UTBK, bisa bahasa Inggris, dan punya portofolio digital. 24 jam terasa seperti 12 jam. Inilah dilema pertama: bukan santri yang lemah, tapi waktunya yang dipaksa terlalu padat.

Dilema Metode: Sabar vs Seketika

Perbedaan paling fundamental ada di metode. Kitab Kuning mengajarkan cara berpikir bertahap dan vertikal. Santri harus membaca teks gundul, memaknai kata per kata, mencari ibarah di kitab lain, memahami ‘illat hukum, baru menarik kesimpulan. Proses ini bisa memakan waktu 5 tahun untuk satu kitab Fiqh. Ia melatih kesabaran, kedalaman, dan adab ke ilmu. Inilah yang membuat lulusan pesantren punya “kesejukan” dalam berfatwa. Tidak grusa-grusu, tidak reaktif. Wi-Fi dan segala turunannya mengajarkan sebaliknya: horizontal dan seketika. Jawaban ada di 0,3 detik. Ketik “hukum zakat saham” di Google, keluar 100 fatwa. Buka TikTok, 15 detik langsung dapat kesimpulan: “haram” atau “boleh”. Otak generasi Z memang wired untuk kecepatan. Algoritma melatih mereka anti terhadap teks panjang dan ribet.Dilemanya di sini: jika pesantren ngotot 100% metode sorogan-bandongan tanpa sentuhan media, santri akan merasa “tidak relate”. Mereka mengantuk, kabur, atau pura-pura paham. Ustadz capek, santri juga capek. Sebaliknya, jika pesantren langsung menyerah dan full digital, sanad ilmu bisa putus. Adab ngalap berkah ke kitab, adab ngesot di depan kiai, adab mencium kitab sebelum ngaji bisa hilang. Kita tidak kehilangan ilmu, tapi kehilangan cara mendapatkan ilmu. Dan cara itu adalah ruh pesantren.

Dilema Ekspektasi: Kiai, Ortu, dan Santri

Konflik ini makin rumit karena tiga pihak punya ekspektasi berbeda. Kiai dan yayasan berteriak dari mimbar: “Jaga sanad! Jangan sampai 20 tahun lagi tidak ada yang bisa baca kitab gundul! Kalau sanad putus, Islam Indonesia gampang diobok-obok paham instan”. Orang tua berbisik di ruang tamu: “Yang penting anak saya lulus, kerja, melek IT. Ngaji secukupnya saja, yang penting akhlaknya bagus dan bisa cari nafkah halal. Zaman sekarang ijazah + skill yang laku”. Sementara santri terjepit di tengah, curhat ke tembok kamar: “Kiai, saya mau khatam Alfiyah. Tapi saya juga mau bisa bikin konten dakwah yang ditonton 1 juta orang, biar teman saya hijrah. Saya bingung harus kejar yang mana dulu”.Ketiganya benar. Kiai benar menjaga marwah. Ortu benar menyiapkan masa depan. Santri benar ingin relevan. Maka ini bukan soal siapa yang salah. Ini soal bagaimana meramu tiga kebenaran itu agar tidak saling melukai. Jika dipaksa memilih, maka akan lahir generasi setengah: hafal kitab tapi gaptek, atau jago IT tapi buta kitab.

 Titik Temu: Bukan “VS”, Tapi “+”

Jika terus diposisikan sebagai “vs”, maka akan selalu ada yang kalah. Dan kekalahan salah satu pihak adalah kekalahan pesantren itu sendiri. Kuncinya adalah mengubah “vs” menjadi “+”. Kitab Kuning + Wi-Fi. Integrasi, bukan dikotomi.

Pertama, manfaatkan Wi-Fi untuk menguatkan Kitab Kuning, bukan menggantinya. Wi-Fi bisa jadi “khadam” kitab. Santri bisa mengunduh aplikasi Maktabah Syamilah untuk mencari ta’liq ulama dalam 1 detik. Bisa akses dars Syekh dari Timur Tengah di YouTube untuk memperkaya pemahaman Ihya’ Ulumuddin. QR code bisa ditempel di sampul kitab, sekali scan langsung muncul syarah PDF atau audio ngaji dari kiai. Teknologi tidak merusak sanad, jika niatnya adalah mempermudah muthala’ah. Dulu santri jalan kaki ke perpustakaan pesantren lain untuk cari kitab. Sekarang perpustakaan dunia ada di genggaman. Ini nikmat, bukan ancaman.

Kedua, buat “zona waktu sakral” yang tegas. Pesantren perlu aturan yang jelas dan disepakati: jam 04.00-06.00 dan ba’da Maghrib adalah “zona offline sakral”. Tidak ada HP, tidak ada sinyal. Ruang itu murni untuk Kitab Kuning, untuk adab, untuk barakah. HP dikumpulkan di laci asrama. Di luar jam itu, silakan santri gunakan Wi-Fi untuk sekolah, tugas, dan mengembangkan skill digital. Aturan yang jelas akan melatih disiplin dan mindfulness. Santri belajar fokus 100% saat ngaji, dan fokus 100% saat kerja digital. Abu-abu yang bikin capek.

Ketiga, cetak santri jembatan. Lulusan pesantren yang paling dibutuhkan umat hari ini bukan yang hanya bisa baca kitab, atau hanya bisa coding. Tapi yang bisa keduanya. Pagi hari ia bisa menjelaskan qira’ah dalam I’anatut Thalibin. Sore harinya ia bisa membuat utas Twitter meluruskan hoaks agama dengan rujukan kitab. Ia bisa bikin kalkulator zakat pakai Excel berdasarkan Fathul Qarib. Santri seperti inilah benteng terakhir umat di era post-truth dan disinformasi. Pesantren harus bangga melahirkan mereka.

Bersujud Bersama

Jadi, “Kitab Kuning vs Wi-Fi” adalah pertarungan semu. Yang sebenarnya bertarung adalah dua nilai: kesabaran melawan kecepatan, kedalaman melawan akses instan. Pesantren tidak akan selamat jika mencabut kabel Wi-Fi. Tapi umat juga tidak akan selamat jika Wi-Fi mematikan Kitab Kuning. Tugas kita bukan memilih. Tugas kita adalah memastikan sinyal Wi-Fi di pesantren kuat untuk mengunduh ilmu, bukan untuk mengunduh drama. Memastikan kitab kuning tetap terbuka, tidak hanya jadi pajangan di rak berdebu.Karena di akhir zaman, kita tidak butuh santri yang gagap teknologi. Tapi kita jauh lebih tidak butuh santri yang gagap kitab. Kita butuh santri yang tangan kanannya memegang kitab, tangan kirinya lincah mengetik kebenaran. Saat itulah, Kitab Kuning dan Wi-Fi tidak lagi bertarung. Keduanya bersujud, mengabdi pada satu tujuan: menjaga Islam rahmatan lil ‘alamin tetap hidup, relevan, dan beradab.Wallahu a’lam bish-shawab.

Saepulah AM adalah Pemerhati Pendidikan Anak & Pegiat Literasi Digital Pesantren Mahasiswa S3 UIN Raden Mas Said Surakarta

Author

Tinggalkan Tanggapan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *