Selasa, 21 Juli 2026 “Pena adalah jembatan menuju peradaban.” Alinea-Cordova

Berpartisipasi dalam Membangun Peradaban Bangsa

Opini

Ketika Pendidikan Menjadi Benteng Bangsa: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Iran?

Afif Hasbi Bustomi, Mahasiswa S3 UIN Raden Mas Said Surakarta

Ketika dunia kembali menyoroti konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, perhatian publik umumnya tertuju pada kekuatan militer, persenjataan, dan dinamika geopolitik. Namun di balik berbagai ketegangan tersebut, terdapat satu pertanyaan yang layak direnungkan oleh para pendidik: bagaimana Iran mampu mempertahankan kapasitas negaranya di tengah embargo ekonomi, isolasi internasional, dan tekanan geopolitik yang berlangsung selama lebih dari empat dekade?

Pertanyaan ini menarik karena dalam logika pembangunan modern, tekanan ekonomi yang berkepanjangan seharusnya menghambat kemajuan suatu bangsa. Akses terhadap investasi, teknologi, dan kerja sama internasional menjadi terbatas. Namun pengalaman Iran menunjukkan sesuatu yang berbeda. Terlepas dari berbagai persoalan yang dihadapinya, negara tersebut tetap mampu mengembangkan kapasitas pendidikan, penelitian, kesehatan, dan teknologi. Salah satu kunci yang sering luput dari perhatian adalah komitmen jangka panjang terhadap pendidikan.

Dalam berbagai laporan, UNESCO dan Bank Dunia menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. Pendidikan yang kuat tidak hanya menghasilkan tenaga kerja terampil, tetapi juga melahirkan kemampuan beradaptasi, berinovasi, dan menyelesaikan masalah. Dengan kata lain, ketahanan nasional dibangun jauh sebelum krisis terjadi, yaitu melalui investasi yang konsisten pada sumber daya manusia.

Iran tampaknya memahami hal tersebut dengan baik. Data UNESCO Institute for Statistics menunjukkan bahwa selama beberapa tahun terakhir Iran secara konsisten mengalokasikan porsi yang besar dari anggaran pemerintahnya untuk sektor pendidikan. Pada tahun 2020, misalnya, belanja pendidikan mencapai sekitar 22,67 persen dari total belanja pemerintah. Bahkan pada 2022, ketika tekanan ekonomi akibat sanksi masih berlangsung, alokasi pendidikan tetap berada pada kisaran 18,82 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai investasi strategis nasional, bukan sekadar sektor pelayanan publik yang dapat dikurangi ketika kondisi ekonomi memburuk.

Komitmen tersebut menghasilkan capaian yang nyata. Data UNESCO menunjukkan bahwa angka penyelesaian pendidikan dasar di Iran telah mencapai lebih dari 96 persen, sementara angka putus sekolah pada jenjang dasar tergolong rendah. Di sektor pendidikan tinggi, Iran juga mengalami perkembangan yang pesat. Sejak awal tahun 2000-an, jumlah mahasiswa meningkat secara signifikan sehingga menjadikan Iran sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan tinggi terbesar di kawasan Timur Tengah. Beberapa universitas seperti Sharif University of Technology, University of Tehran, dan Iran University of Science and Technology bahkan dikenal sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki reputasi internasional.

Namun yang paling menarik bukanlah besarnya jumlah mahasiswa atau banyaknya universitas. Yang lebih penting adalah arah pengembangannya. Iran tidak hanya memperluas akses pendidikan tinggi, tetapi juga secara sadar menjadikan sains, teknologi, dan inovasi sebagai prioritas pembangunan nasional. Dalam artikel ilmiah Science, Technology, and Innovation Status in Iran: Main Challenges, Almas Heshmati dan Seyed Mohammad Dibaji menjelaskan bahwa pengembangan sains, teknologi, dan inovasi telah menjadi salah satu pilar utama strategi pembangunan Iran. Menurut mereka, investasi pada pendidikan, penelitian, dan inovasi dipandang sebagai instrumen penting untuk memperkuat kapasitas domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar.

Pandangan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam kebijakan jangka panjang. Dalam artikelnya yang berjudul Iran’s Twenty-Year Vision Document: An Outlook on Science and Technology, Mehdi S. Madarshahi menjelaskan bahwa Iran menargetkan diri menjadi negara terdepan di kawasan dalam bidang ilmu pengetahuan dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Pendidikan tidak diposisikan sekadar sebagai sarana menghasilkan lulusan, tetapi sebagai instrumen untuk membangun kemampuan bangsa dalam menciptakan teknologi dan inovasi secara mandiri.

“Investasi pada pendidikan, penelitian, dan inovasi dipandang sebagai instrumen penting untuk memperkuat kapasitas domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar.”

Iran dan Indeks Inovasi Global

Komitmen itu terlihat dalam pengembangan berbagai sektor strategis. Salah satu yang paling menonjol adalah nanoteknologi. Pemerintah membentuk Iran Nanotechnology Initiative Council yang menghubungkan universitas, lembaga penelitian, dan industri. Melalui pendekatan ini, hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi akademik, tetapi didorong menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha. Di bidang kesehatan, investasi jangka panjang pada pendidikan kedokteran, farmasi, dan bioteknologi memperkuat kapasitas riset nasional. Reuters bahkan pernah melaporkan bagaimana Iran berupaya mengembangkan vaksin COVID-19 melalui kolaborasi antara universitas, lembaga penelitian, dan industri farmasi dalam negeri. Sementara itu, BBC dan Reuters beberapa kali memberitakan keberhasilan Iran meluncurkan satelit menggunakan teknologi yang dikembangkan secara domestik. Terlepas dari berbagai perdebatan politik yang menyertainya, capaian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan teknologi tidak lahir secara instan, melainkan melalui investasi panjang pada pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Pelajaran dari Iran menjadi sangat relevan bagi sekolah Islam dan madrasah di Indonesia. Selama ini, ukuran keberhasilan pendidikan masih sering berorientasi pada nilai ujian, tingkat kelulusan, atau jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi ternama. Di lingkungan sekolah Islam, ukuran tersebut sering ditambah dengan capaian hafalan Al-Qur’an, pembentukan karakter, dan prestasi keagamaan. Semua itu tentu penting. Namun pertanyaannya, apakah ukuran-ukuran tersebut sudah cukup untuk menjawab tantangan bangsa pada abad ke-21?

Jika menggunakan perspektif yang ditunjukkan Iran, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya berapa banyak siswa yang lulus atau diterima di perguruan tinggi favorit. Pertanyaan yang lebih strategis adalah: berapa banyak lulusan sekolah Islam dan madrasah yang kelak menjadi ilmuwan, peneliti, insinyur, dokter, ahli kecerdasan buatan, atau inovator yang mampu menyelesaikan persoalan bangsa?

Di sinilah tantangan besar pendidikan Islam Indonesia. Selama ini diskursus pendidikan Islam lebih banyak berfokus pada pembentukan karakter, moderasi beragama, dan penguatan identitas keislaman. Tema-tema tersebut memang penting, tetapi sering kali membuat isu penguasaan sains dan teknologi berada di posisi kedua. Akibatnya, sekolah Islam dipandang sebagai pusat pembentukan moral, tetapi belum sepenuhnya diposisikan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Padahal, tradisi Islam tidak pernah mengenal dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Ibnu Al-Haytham adalah ulama sekaligus ilmuwan. Mereka memandang penelitian ilmiah sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah. Karena itu, sekolah Islam dan madrasah perlu melakukan lompatan cara pandang. Pendidikan Islam tidak cukup hanya melahirkan generasi yang saleh secara individual, tetapi juga harus melahirkan generasi yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan bangsa melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), sekolah Islam tidak cukup hanya melahirkan pengguna teknologi. Sekolah Islam harus mulai bercita-cita melahirkan pencipta teknologi. Jika hari ini sekolah bangga menghasilkan hafiz Al-Qur’an, maka pada masa depan sekolah juga perlu bangga ketika melahirkan ilmuwan data, insinyur robotika, peneliti kesehatan, atau pengembang kecerdasan buatan yang tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam. Pada akhirnya, pelajaran terbesar yang dapat dipetik dari pengalaman Iran bukanlah tentang konflik atau kekuatan militernya. Pelajaran terbesarnya adalah kesadaran menjadikan pendidikan sebagai investasi strategis bangsa. Ketahanan nasional tidak dibangun ketika perang terjadi, tetapi jauh sebelumnya, melalui ruang-ruang kelas yang melahirkan manusia berilmu, berkarakter, dan berdaya saing. Inilah inspirasi yang patut diambil oleh sekolah Islam dan madrasah di Indonesia: membangun peradaban melalui pendidikan yang unggul, sehingga mampu melahirkan generasi yang kokoh iman, luas ilmu, mulia akhlak, dan siap menghadapi tantangan global.

Afif Hasbi Bustomi adalah Mahasiswa S3 UIN Raden Mas Said Surakarta

Author

Tinggalkan Tanggapan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *