Di sebuah nagari kecil di tepi Danau Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908 lahir seorang anak yang kelak namanya akan dikenang berlapis-lapis generasi: Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih akrab disapa Buya HAMKA. Ia tumbuh menjadi ulama kharismatik sekaligus sastrawan, sejarawan, ahli filsafat, jurnalis, dan tokoh politik—sederet peran yang jarang berhimpun dalam satu tubuh (Tempo, 2025). Hidupnya seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Deras oleh rasa ingin tahu, jernih oleh kesetiaan pada iman, dan panjang oleh lebih dari seratus karya yang ia tinggalkan bagi bangsanya.
Dari Surau Maninjau ke Pengembaraan di Tanah Jawa
HAMKA dibesarkan dalam lingkungan religius yang kental. Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, adalah pelopor gerakan pembaruan Islam di Minangkabau (Tempo, 2025). Namun keagamaan yang ia warisi tidak datang dalam bentuk tunggal. Dari kakek dan neneknya, HAMKA kecil menyerap keindahan pantun dan kaba, tradisi lisan Minangkabau, sehingga sejak dini ia hidup di antara dua dunia, yakni ketaatan beragama dan kecintaan pada sastra. Perpaduan inilah yang kelak menjadi denyut khas tulisannya, di mana ayat dan syair sering berjalan beriringan.
Masa kecilnya jauh dari gambaran santri teladan. Ia mengaku sebagai anak nakal yang gemar membolos demi menonton film bisu atau bermain di tepi Danau Maninjau. Ketika berusia dua belas tahun, perceraian kedua orang tuanya memukulnya keras; ia sempat telantar dan kerap pergi jauh seorang diri mencari ketenangan. Dari luka itulah, agaknya, tumbuh naluri pengembara yang tak pernah padam sepanjang hidupnya, sebuah kegemaran berjalan dan mencari yang kemudian menjadi modal besar bagi seorang penulis.
Secara formal, pendidikan HAMKA tergolong minim. Ia hanya menamatkan sekolah desa hingga kelas dua atau tiga. Ayahnya sempat memasukkannya ke Diniyah School dan Sumatera Thawalib, tetapi ia jenuh pada sistem hafalan kitab klasik yang dirasakannya memberatkan. Yang menyelamatkannya justru kebiasaan membaca. Di taman bacaan milik gurunya, Zainuddin Labay El Yunusy, ia melahap karya Balai Pustaka, cerita Tionghoa, hingga terjemahan Arab. Pendidikan sejatinya ia tempuh sendiri, lewat buku dan jalan, sebagai seorang otodidak yang tak pernah merasa cukup berilmu.
Pada usia enam belas tahun, tahun 1924, HAMKA merantau ke Yogyakarta dan Pekalongan (Tempo, 2025). Di tanah Jawa inilah ia berjumpa dengan tokoh-tokoh besar yang menyalakan kesadaran politik dan keislamannya: HOS Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam yang piawai berpidato; Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah; serta R.M. Suryopranoto, sang “raja pemogokan” pembela kaum buruh. Dari mereka ia belajar bahwa Islam bukan semata ibadah ritual, melainkan juga gerakan sosial yang membela yang lemah. Sekembalinya ke Padang Panjang, HAMKA pun turut membesarkan Muhammadiyah. Tiga tahun kemudian, pada 1927, ia berlayar ke Mekkah, bekerja di sebuah percetakan, dan di sela-sela itu memperdalam bahasa Arab serta membaca kitab-kitab klasik secara mandiri.
Penjara yang Melahirkan Tafsir, dan Al-Azhar yang Mengabadikan Nama
Sekembalinya ke Tanah Air, HAMKA meniti karier sebagai guru agama di Deli sekaligus wartawan. Di Medan ia menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat, dan lewat lembar-lembar itulah ia melambung sebagai sastrawan. Ia gemar menulis cerita bersambung yang kemudian dibukukan menjadi novel-novel besar. Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck—dua karyanya yang paling laris—disusul Merantau ke Deli, Si Sabariah, Laila Majnun, dan Tuan Direktur. Lewat fiksi, HAMKA menyelipkan kritik terhadap adat yang usang sekaligus pesan tentang harga diri manusia, menjadikannya salah satu dari sedikit ulama yang juga diakui sebagai sastrawan berpengaruh.
Kecintaannya pada bangsa tidak berhenti di atas kertas. Pada masa revolusi fisik, ketika Belanda berupaya kembali berkuasa, HAMKA turut bergerilya di Sumatera Barat bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota untuk menggalang persatuan rakyat. Pengalaman itu menegaskan satu hal: bagi HAMKA, keulamaan dan kebangsaan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Ia tidak pernah memisahkan iman dari tanah air, dan justru di titik temu keduanyalah ia menemukan panggilan hidupnya.
Kepiawaian HAMKA memanfaatkan media massa menjadi salah satu rahasia pengaruhnya. Ia bukan hanya menulis, melainkan juga membangun corong: pendiri dan pemimpin redaksi sejumlah majalah Islam, dari Pedoman Masyarakat, Gema Islam, hingga Panji Masyarakat yang melegenda. Lewat mimbar cetak itu ia menyebarkan gagasan secara konsisten, menyapa pembaca dengan bahasa yang santun namun tegas. Ceramah-ceramahnya di Kuliah Subuh yang disiarkan RRI bahkan mengikat perhatian umat hingga ke pelosok negeri, menjadikannya salah satu suara keagamaan paling didengar pada zamannya.
Tetapi babak yang paling menentukan justru lahir dari penderitaan. Pada 27 Januari 1964, di tengah memuncaknya pengaruh komunisme dan serangan organisasi kebudayaan Lekra terhadap dirinya, HAMKA dijemput aparat dari rumahnya dan ditahan di Sukabumi (Merdeka, 2024). Ia dituduh melakukan kegiatan subversif—bahkan dikaitkan dengan rencana menggulingkan dan membunuh Presiden Soekarno melalui sebuah rapat gelap. Tuduhan itu tak pernah terbukti di pengadilan, dan banyak pihak menilainya rekayasa untuk menyingkirkan lawan politik (Merdeka, 2024). HAMKA mendekam kurang lebih dua tahun hingga dibebaskan menjelang runtuhnya Orde Lama pada 1966 (Tempo, 2025).
Di balik jeruji itulah keajaiban terjadi. Alih-alih hancur, HAMKA justru menuntaskan karya ilmiah terbesarnya: Tafsir Al-Azhar 30 juz (Kemenag, 2020). Ia menyebut masa tahanan sebagai “anugerah tiada terhingga”, karena memberinya waktu untuk menulis tanpa gangguan; bahkan ia sempat mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari seratus lima puluh kali selama dipenjara (GoRiau, 2025). Tafsir itu istimewa bukan hanya karena lengkap tiga puluh juz, tetapi karena ditulis dalam bahasa Indonesia yang lugas, sarat kearifan lokal, dan merekam denyut sosial-politik umat selama puluhan tahun. Hingga hari ini, Tafsir Al-Azhar tetap dibaca luas sebagai karya tafsir populer yang menjembatani teks suci dengan kehidupan sehari-hari.
Nama “Al-Azhar” sendiri menyimpan kisah persahabatan lintas benua. Masjid Agung di Kebayoran Baru yang dipimpin HAMKA sejak 1958 semula bernama Masjid Agung Kebayoran. Pada 1960, Grand Syekh Al-Azhar Kairo, Mahmud Syaltut, berkunjung ke Indonesia dan menyematkan nama Al-Azhar pada masjid itu, sebuah penghormatan kepada HAMKA yang dua tahun sebelumnya menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Dari masjid ini tumbuh kompleks pendidikan Islam modern yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum, berkembang dari taman kanak-kanak hingga akhirnya melahirkan Universitas Al-Azhar Indonesia. Inilah salah satu warisan pendidikan HAMKA yang paling hidup hingga kini.
HAMKA merepresentasikan sosok ulama modern yang tetap berakar pada khazanah klasik. Ia fasih membaca turats (kitab-kitab tafsir, hadis, dan fikih para salaf) namun tak segan menyelami pemikiran Barat seperti Karl Marx, William James, dan Sigmund Freud melalui terjemahan Arab. Ia pun berhasil mentransformasikan tradisi lisan Minangkabau ke dalam tulisan yang sistematis, sehingga karyanya terasa dekat dengan budaya rakyat tetapi tetap berbobot intelektual. Keterbukaan itulah yang membuatnya begitu produktif: lebih dari seratus karya lintas disiplin lahir dari tangannya. Ia meyakini bahwa sejarah bangsa dibentuk oleh dua tipe pribadi (pemikir dan pekerja) dan ia memilih menjadi keduanya sekaligus.
“HAMKA merepresentasikan sosok ulama modern yang tetap berakar pada khazanah klasik”.
Perjalanannya berujung pada pengakuan tertinggi. HAMKA terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia pada 1975, dan berhasil membangun citra lembaga itu sebagai wadah yang independen dan berwibawa. Integritasnya teruji hingga akhir hayat: pada Mei 1981 ia memilih mundur dari MUI ketika ditekan untuk menarik fatwa lembaga tersebut, sebuah sikap yang menegaskan bahwa baginya kebenaran lebih berharga daripada kursi (Tempo, 2025). Atas seluruh jasanya, pada 2011 negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya. Namun warisan terbesarnya barangkali bukan jabatan atau gelar, melainkan keteladanan: seorang anak nakal dari tepi danau yang, dengan rasa ingin tahu dan pena yang tak pernah kering, mengajari bangsanya bahwa ilmu dan iman dapat berjalan beriringan. HAMKA wafat di Jakarta pada 24 Juli 1981, tetapi kata-katanya masih bersuara, yakni selalu dibaca, dikutip, dan dirindukan oleh Indonesia yang ia cintai.
Mudhofir Abdullah adalah Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta
