Berita Densus 88 menangkap delapan terduga teroris di Sulawesi Tengah pada 6 Mei 2026 cukup mengejutkan, setelah lama isu terorisme di Indonesia seakan-akan tenggelam dari permukaan. Menurut Densus, kelompok ini adalah jaringan Jamaah Anshoru Daulah (JAD), juga disebut sebagai sel tidur Mujahidin Indonesia Timur (MIT), yang berafiliasi dengan ISIS (Antara, 6 Mei 2026). Hampir bersamaan, peristiwa November 2025 berupa ledakan bom di SMAN 72 Jakarta justru dipastikan bukan terorisme berbasis ideologi, melainkan manifestasi subkultur digital bernama True Crime Community (TCC). Pertanyaannya, apakah MIT benar-benar masih terhubung dengan jaringan ISIS ketika ISIS di Suriah sudah babak belur di tangan pemerintahan baru Ahmed al-Sharaa? Pertanyaan ini penting karena terorisme tampak sedang bertransformasi (meski basis ideologi dan teologi belum sepenuhnya luruh) ke arah kekerasan nirideologi seperti TCC.
MIT, JAD, dan Bayangan ISIS yang Memudar
Untuk menjawabnya, dua peta perlu dibaca bersamaan, yaitu peta dalam negeri dan peta di Damaskus. MIT yang didirikan Santoso pada 2010 secara historis bukan hanya kelompok lokal Poso; ia adalah ekstensi dari poros ideologis Solo (Jamaah Islamiyah dan Jamaah Ansharut Tauhid yang tumbuh dari Pondok Pesantren Ngruki) yang kemudian berbaiat kepada Abu Bakar al-Baghdadi pada Juni 2014. Operasi gabungan TNI-Polri lewat Tinombala dan Madago Raya menumpas kelompok ini secara fisik. Hasilnya Santoso tewas pada 2016, Ali Kalora pada September 2021, dan buron terakhir Askar alias Pak Guru pada September 2022. Pada 31 Desember 2025, Polda Sulteng resmi menutup Operasi Madago Raya. MIT, secara organisatoris, telah bubar.
Namun penangkapan 6 Mei 2026 di Poso dan Parigi Moutong menunjukkan bahwa “amunisi” ideologis tidak ikut mati bersama Santoso dan Ali Kalora. Yang tersisa adalah sel-sel JAD yang mengaktifkan diri secara digital (mengunggah gambar, tulisan, dan video paham radikal) lalu berbaur dengan masyarakat tanpa mencolok. Salah seorang yang ditangkap, misalnya, dikenal warga sebagai penjual buah biasa. Pola ini cocok dengan apa yang disebut analis sebagai phantom cell network atau leaderless resistance, yakni organisasi hierarkis berganti menjadi sel-sel kecil yang bergerak otonom melalui internet, jauh lebih sulit dideteksi oleh pengejaran konvensional.
Pertanyaan ideologisnya pun menusuk. Kepada “ISIS” mana sebenarnya mereka berkiblat? ISIS Suriah, sejak jatuhnya Bashar al-Assad pada Desember 2024, kehilangan teritori dan tertekan oleh pemerintahan transisi Ahmed al-Sharaa (mantan pemimpin Hayat Tahrir al-Sham) yang kini memposisikan ISIS sebagai musuh utamanya, sejajar dengan Iran. Memang, ISIS sempat meningkatkan letalitas serangan di wilayah Pasukan Demokratik Suriah pada akhir 2025 dan melakukan bom bunuh diri di Gereja Mar Elias Damaskus pada Juni 2025. Namun secara teritorial dan organisatoris, ISIS tidak lagi menjadi “negara” yang memproduksi pelatihan dan rantai komando.
Yang masih hidup adalah ISIS sebagai brand dan narasi, dan justru di titik itulah JAD memperoleh oksigen. Mereka tidak lagi memerlukan kanal logistik fisik dari Suriah; cukup koneksi internet, file PDF, dan akun anonim. Hubungan MIT-JAD-ISIS hari ini, dengan kata lain, lebih merupakan afinitas ideologis lewat layar ketimbang rantai komando operasional. Itulah sebabnya barang bukti yang ditemukan Densus bukan senjata berat, melainkan enam bilah parang, telepon genggam, dan kartu ATM.
Teror tanpa Ideologi: Ketika Anak Memuja Pembunuh
Jika MIT-JAD merepresentasikan teror berbasis ideologi yang sedang menyusut, SMAN 72 menandai vektor ancaman yang justru sedang mekar, yakni kekerasan nihilistik tanpa Tuhan, tanpa khalifah, tanpa partai. Pelaku, seorang siswa berusia 17 tahun, meledakkan tujuh bom improvisasi pada 7 November 2025 dan melukai 96 orang. Asesmen Densus menegaskan ia bukan korban radikalisasi ideologis, melainkan korban perundungan yang mengakses grup True Crime Community dan terjebak fenomena yang oleh BNPT disebut memetic violence—kekerasan peniruan (Kompas.com, 18 November 2025).
Apa yang membedakan TCC dari terorisme klasik? Pertama, motivasi. Pelaku TCC tidak bergerak demi tujuan teologis, melainkan demi misantropi (kebencian umum pada manusia) dan clout digital, yakni status di komunitas daring. FBI mengategorikannya sebagai Nihilistic Violent Extremism (NVE), yakni tindakan kriminal yang lahir dari keinginan memicu keruntuhan tatanan sosial. Kedua, estetika. Pelaku SMAN 72 meniru pose Natalie Rupnow, pelaku penembakan sekolah Wisconsin, dan menuliskan referensi Columbine, Christchurch, serta Quebec City pada replika senjatanya, tanda kesetiaan pada “santo” pembunuh massal lintas negara (CTC Sentinel, Februari 2026). Ketiga, ekosistem. Komunitas ini sporadis, tanpa pendiri formal, tumbuh di Discord, Telegram, TikTok, hingga platform permainan seperti Roblox.
Skalanya bukan kasus tunggal. Hingga awal 2026, Densus 88 mengidentifikasi 70 anak di 19 provinsi (mayoritas berusia 15 tahun) yang aktif dalam grup TCC dan merencanakan pengeboman ruang kelas, penusukan guru, hingga bunuh diri pasca-aksi (Kompas.id, 7 Januari 2026). Dan rantainya transnasional, yakni pelaku penusukan sekolah di Odintsovo, Moskow, pada Desember 2025 menuliskan “Jakarta Bombing 2025” pada gagang senjatanya. Dalam hitungan bulan, Indonesia berubah dari konsumen menjadi pengekspor narasi kekerasan nihilistik. Tidak heran jika Sulawesi Tengah, wilayah yang baru saja menutup operasi anti-MIT, ikut masuk dalam peta paparan TCC, di mana Densus mendeteksi anak-anak lokal yang mulai mengonsumsi konten serupa.
Di sinilah dua wajah teror itu bertemu pada satu hulu berupa ruang digital. Era digital bukan hanya menghadirkan manfaat bagi peradaban, tetapi juga efek samping berupa kemudahan transfer perilaku lintas batas. Sel JAD di Poso menyebarkan propaganda lewat unggahan media sosial; remaja Jakarta meniru penembak sekolah Wisconsin lewat video TikTok berdurasi belasan detik; bocah di Moskow menulis “Jakarta Bombing 2025” karena melihatnya viral. Algoritma platform arus utama bekerja sebagai jembatan yang mendorong pengguna dari konten kriminal ringan menuju forum tertutup yang merayakan kekejaman. Sikap copycat yang dulu butuh tahunan ideologisasi pesantren atau kamp pelatihan, kini hanya perlu tiga kali geser jari. Penangkapan delapan tersangka di Poso dan Parigi Moutong, dengan demikian, harus dibaca sebagai sinyal kewaspadaan ganda. Era digital memperpanjang umur ideologi lama yang seharusnya sudah mati di hutan, sekaligus memunculkan ideologi baru yang bahkan tidak memerlukan Tuhan untuk membenarkan pembantaian. Pemerintah lewat BNPT kini memperketat pengawasan Roblox dan meluncurkan situs Tunasdigital.id; namun cukupkah itu? Bagaimana kita membedakan anak yang menarik diri karena lika-liku puber dengan anak yang sedang dipanen oleh forum gore? Dan jika MIT tumbang oleh peluru sementara TCC tumbuh oleh algoritma, apakah Densus 88 (yang lahir dari paradigma kontra-jihad pasca-Bom Bali) sudah cukup diperlengkapi untuk berperang melawan musuh yang kini bersarang di kantong celana setiap remaja kita?
Penulis adalah Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta
