“Hikmah adalah barang yang hilang milik orang beriman. Di mana pun ia menemukannya, maka ia lebih berhak mengambilnya.” (HR. Tirmidzi)
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi sebuah sekolah Katolik Kolese yang dikelola oleh Jesuit. Kunjungan itu bukan untuk mempelajari liturgi ataupun ajaran agamanya, melainkan ingin melihat dari dekat bagaimana mereka membangun pendidikan karakter. Sebagai insan pendidikan di sekolah Islam, saya percaya bahwa praktik-praktik baik dalam dunia pendidikan layak dipelajari selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dan saya diterima dengan sangat baik, dan sangat berkesan.
Kesan pertama yang saya rasakan justru datang bukan dari bangunan sekolahnya, melainkan dari perilaku para siswanya. Ketika memasuki lingkungan sekolah, mereka tersenyum dengan tulus. Mereka menyapa tamu dengan antusias dan tanpa canggung. Beberapa siswa bahkan menawarkan bantuan ketika melihat kami tampak kebingungan mencari ruangan. Di lorong sekolah, tidak terdengar teriakan yang berlebihan. Di kelas, siswa tampak antusias berdiskusi dengan guru, bahkan ketika sedang pembelajaran diruang gamelan, saya disambut dengan musik gamelan yang sangat bagus. Mereka bertanya, mengemukakan pendapat, sekaligus menghargai teman yang berbicara. Ketika jam istirahat sekolah, anak-anak sabar untuk antri di kantin. Setiap berpapasan dengan kami, setiap siswa menyapa dan tersenyum dengan ramah.
Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak saya sederhana, mengapa budaya seperti ini dapat tumbuh?
Jawaban pertama, saya temukan ketika berinteraksi dengan para gurunya. Guru yang juga sangat ramah, sangat melayani, begitu antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan. Terasa nuansa kekeluargaan meskipun baru sekali berjumpa. Guru-guru yang juga begitu akrab dengan para siswanya, tersenyum dan menyapa. Nilai-nilai luhur yang diwariskan guru kepada siswa begitu terasa. Dan tentu saja nilai-nilai tersebut merupakan value sekolah yang mengakar sangat kuat.
Jawaban berikutnya saya temukan ketika membaca buku Jalan Hati Yesuit karya Sindhunata. Buku ini bukan buku tentang teori pendidikan, melainkan kumpulan refleksi mengenai spiritualitas Ignatian yang ditulis dalam rangka 500 tahun pertobatan Ignatius Loyola. Namun di balik refleksi spiritual tersebut tersimpan filosofi pendidikan yang sangat kuat. Romo Sindhunata menjelaskan bahwa spiritualitas Ignatian bukan hanya urusan akal dan pengetahuan, tetapi juga menyangkut rasa, hati, dan pengalaman hidup sehari-hari. Spiritualitas ini mengajak seseorang menemukan makna hidup melalui pengalaman nyata, sehingga pendidikan tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi membentuk hati manusia.
Karakter 4C
Inilah yang menurut saya menjadi akar pendidikan karakter di sekolah-sekolah Kolese. Mereka mendidik kepala sekaligus hati. Pengetahuan dianggap penting, tetapi karakter jauh lebih menentukan bagaimana ilmu itu digunakan. Karena itu, pembentukan karakter tidak hanya diajarkan dalam mata pelajaran tertentu, melainkan dihidupkan melalui budaya sekolah, relasi antarmanusia, keteladanan guru, pembiasaan, serta refleksi harian.
Budaya tersebut kemudian diterjemahkan dalam empat nilai utama yang dikenal sebagai 4C, yaitu Competence, Conscience, Compassion, dan Commitment. Keempat nilai ini tidak sekadar menjadi slogan yang ditempel di dinding sekolah, tetapi menjadi arah pembentukan seluruh aktivitas pendidikan.
Competence berarti membentuk peserta didik yang memiliki kemampuan terbaik sesuai potensi yang dimiliki. Kompetensi tidak hanya diukur melalui nilai akademik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan terus belajar. Hal inilah yang mungkin menjelaskan mengapa para siswa tampak memiliki kesadaran belajar yang tinggi. Mereka belajar bukan sekadar mengejar angka, melainkan karena belajar dipandang sebagai bagian dari proses menjadi manusia yang utuh.
Nilai kedua adalah Conscience, yaitu hati nurani. Dalam tradisi Ignatian, setiap pengalaman selalu diakhiri dengan refleksi. Siswa diajak bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang telah dipelajari, apa yang dirasakan, apa yang masih perlu diperbaiki, dan apa langkah berikutnya. Refleksi inilah yang membentuk kesadaran diri sehingga seseorang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga bijaksana dalam bertindak. Sindhunata berulang kali menunjukkan bahwa “jalan hati” merupakan perjalanan mengenal diri dan menemukan makna hidup melalui pengalaman sehari-hari.
Nilai ketiga adalah Compassion, yakni kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Inilah karakter yang paling mudah terlihat selama kunjungan kami. Keramahan siswa, kesediaan membantu, kepedulian kepada sesama, serta penghormatan kepada guru maupun petugas sekolah tampaknya bukan perilaku yang dibuat-buat. Semuanya telah menjadi budaya. Mereka belajar bahwa keberhasilan hidup bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Gagasan ini sejalan dengan semangat Men and Women for Others yang menjadi ciri pendidikan Jesuit. Ini terimplementasi dalam semangat melakukan pelayanan kepada sesama.
Nilai terakhir adalah Commitment, yaitu komitmen terhadap tanggung jawab. Disiplin, integritas, ketekunan, dan konsistensi menjadi bagian dari pembiasaan sehari-hari. Karakter dibangun melalui tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus hingga menjadi kebiasaan.
Pelajaran Yang Diambil
Lalu, apa pelajaran yang dapat diambil oleh sekolah Islam? Menurut saya, yang perlu dipelajari adalah metodologi pendidikannya. Sekolah Islam sesungguhnya memiliki sumber nilai yang menurut umat Islam jauh lebih lengkap melalui Al-Qur’an dan Sunnah. Nilai Competence sejalan dengan konsep itqan dan kewajiban menuntut ilmu. Conscience sangat dekat dengan muhasabah, muraqabah, dan ketakwaan. Compassion identik dengan rahmah, ihsan, dan semangat khairunnas anfa’uhum linnas. Adapun Commitment selaras dengan konsep amanah dan istiqamah.
Persoalannya bukan terletak pada kurangnya nilai, melainkan pada bagaimana nilai tersebut dihidupkan menjadi budaya. Kita sering mengajarkan akhlak dalam bentuk teori, tetapi belum sepenuhnya membangun lingkungan yang membuat siswa terbiasa mengamalkannya. Pendidikan karakter tidak cukup melalui ceramah, melainkan harus hadir dalam senyum guru, sapaan warga sekolah, budaya saling menghormati, refleksi harian, pelayanan kepada masyarakat, dan keteladanan yang konsisten.
“Persoalannya bukan terletak pada kurangnya nilai, melainkan pada bagaimana nilai tersebut dihidupkan menjadi budaya”
Pengalaman berkunjung ke sekolah Kolese memberikan pelajaran berharga bahwa karakter tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari budaya yang dipelihara setiap hari. Sebagaimana ditegaskan Romo Sindhunata, pendidikan sejati adalah pendidikan yang menempuh “jalan hati”. Ketika hati telah disentuh, perilaku akan berubah. Ketika budaya telah terbentuk, karakter akan menjadi identitas. Dan ketika karakter telah menjadi identitas, sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga manusia yang ramah, peduli, bertanggung jawab, dan siap mengabdi kepada masyarakat. Bagi sekolah Islam, ini merupakan sesuatu yang sangat menginspirasi. Kita tidak sedang belajar tentang agama lain, tetapi sedang belajar bagaimana nilai-nilai luhur diwujudkan menjadi budaya pendidikan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah sekolah bukan hanya diukur dari banyaknya prestasi akademik, melainkan dari banyaknya manusia berakhlak mulia yang lahir dari dalamnya. Berikutnya, sekolah Islam harus terbuka belajar dari sekolah manapun, tidak tertutup termasuk belajar dari sekolah-sekolah Kolese. Semangat belajar dan keterbukaan ini akan memacu sekolah Islam untuk lebih maju lagi. Dan lebih jauh, kebersamaan, keterbukaan, saling belajar dan mengisnpirasi ini akan menjadi modal penting untuk kemajuan dan perdamaian bangsa.
Afif Hasbi Bustomi adalah Mahasiswa S3 UIN Raden Mas Said Surakarta
