Rabu, 22 Juli 2026 “Pena adalah jembatan menuju peradaban.” Alinea-Cordova

Berpartisipasi dalam Membangun Peradaban Bangsa

Agama

Perintah Membaca (Iqra’) dan Tantangan Budaya Ilmiah dalam Pendidikan Islam

Nuryanto (Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta)

Kebanyakan umat Islam tentu sudah sangat akrab dengan kata Iqra’. Kata yang merupakan bagian dari Qs. Al ‘Alaq, surat yang ke 96 dalam Al-Qur’an ini, sudah banyak dihafalkan umat Islam sejak kecil. Kata ini juga sering dijadikan kutipan para da’i, menempel dinding sekolah atau madrasah sebagai slogan penyemangat peserta didik. Namun, muncul pertanyaan menggelitik yang seharusnya direnungkan. “Jika wahyu pertama adalah “bacalah”, mengapa dunia Islam masih tertinggal dan jauh dari ilmu pengetahuan dan teknologi?” Pertanyaan tersebut tentu tidak dapat dijawab hanya dengan satu indikator. Namun, berbagai data tentang kondisi literasi setidaknya dapat menjadi bahan refleksi untuk melihat sejauh mana semangat Iqra’ telah mewujud dalam kehidupan umat Islam, khususnya di Indonesia.  Sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, Indonesia justru masih menyimpan ironi. Hasil PISA 2022 menunjukkan performa literasi membaca pelajar Indonesia masih menjadi tantangan besar. Literasi umat Islam di Indonesia masih di bawah rata-rata (OECD) Organisation for Economic Co-operation and Development.

Iqra’ dan Tantangan Peradaban

Sebagaimana kita ketahui bahwa iqra’ tidak hanya dapat dipahami secara sempit, yakni sekadar ajakan membaca rangkaian huruf atau kata-kata di atas kertas. Iqra’ adalah seruan untuk membaca segala tanda kebesaran Allah yang terbentang di hadapan manusia. Sehingga membaca wahyu adalah rangkaian membaca semesta (kauniyah). Selain itu iqra’ adalah upaya melihat sejarah dan peradaban manusia sebagai makhluk yang penuh potensi dan kompleksitas. Iqra’ mendorong manusia mampu membaca realitas sosial sebagai medan pengabdian dan perbaikan (Fiqh al-Wāqi’). Karena itu, Al-Qur’an berkali-kali mengarahkan perhatian manusia kepada langit dan bumi, pergantian malam dan siang, hujan yang menghidupkan bumi, gunung yang ditegakkan, lautan yang terbentang luas, hingga penciptaan manusia itu sendiri.

Bila diperhatikan dan direnungkan lebih mendalam, maka kita akan mendapati bahwa Al-Qur’an tidak menghendaki manusia berhenti pada tahap kekaguman saja. Kekaguman hanyalah pintu masuk menuju proses intelektual yang lebih mendalam. Kondisi ini tidak sepenuhnya salah, tetapi bila berulang bukan tidak mungkin hanya menghasilkan kondisi kemandekan (jumūd fikrī) yang mengarah pada stagnasi intelektual, yang melahirkan kebosanan, sikap pasif, serta hilangnya dorongan untuk menggali makna di balik realitas yang dihadapi. Pada titik inilah, kekaguman tidak lagi menjadi energi yang menggerakkan pencarian ilmu, melainkan sekadar menjadi pengalaman emosional yang cepat berlalu tanpa meninggalkan jejak pengetahuan maupun perubahan. Hal ini tentu saja tidak sejalan dengan Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk terus berfikir (tafakkur), mengamati (nazhar), mengkaji (tadabbur), dan meneliti (baḥts). Berulang kali Al-Qur’an mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti afalā tatafakkarūn (tidakkah kalian berpikir), afalā yandhurūn (tidakkah kalian memperhatikan), dan afalā yatadabbarūn (tidakkah mereka mentadabburi). Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa keimanan dalam Islam tidak dibangun di atas sikap pasif, melainkan melalui keterlibatan aktif akal dalam memahami tanda-tanda Allah di alam semesta dan kehidupan.

Pada dasarnya, tradisi keilmuan Islam sesungguhnya berakar kuat pada transformasi dari kekaguman menuju penyelidikan. Rasa takjub terhadap ciptaan Allah harus melahirkan dorongan untuk mencari sebab, memahami pola, mengungkap hukum-hukum alam, dan menemukan solusi bagi persoalan kemanusiaan. Dari semangat inilah lahir peradaban ilmiah Islam yang melahirkan para pengamat, peneliti, ilmuwan, dan pemikir besar dalam berbagai bidang ilmu. Jejak transformasi tersebut dapat ditelusuri sejak masa Rasulullah SAW. Ketika para sahabat mengagumi fenomena gerhana matahari yang bertepatan dengan wafatnya putra beliau, Ibrahim. Banyak sahabat yang mencoba menghubung-hubungkan kedua peristiwa tersebut. Para sahabat banyak menganggap gerhana sebagai bentuk respons kosmis atas wafatnya putra Nabi Muhammad SAW. Para sahabat masih banyak yang terpengaruh tradisi masyarakat kuno, yang menganggap bahwa gerhana seringkali dikaitkan dengan kematian, kelahiran, atau peristiwa besar yang menimpa tokoh agung. Karena Ibrahim adalah putra Rasulullah SAW, muncul anggapan bahwa alam semesta ikut berduka sehingga matahari menjadi gelap. Namun Rasulullah tidak membiarkan para sahabat berhenti pada rasa takjub atau penafsiran mitologis. Beliau menjelaskan bahwa matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang tidak ada hubungannya dengan kematian atau kelahiran seseorang. Meski belum menjelaskan analisis ilmiah mengenai terjadinya gerhana matahari, tapi sikap Rasulullah ini menunjukkan adanya pergeseran cara berpikir dari sekadar kekaguman menuju pemahaman yang rasional dan berbasis fakta.

Semangat tersebut kemudian berkembang pada masa para sahabat dan generasi sesudahnya. Kebutuhan memahami arah kiblat, menentukan waktu salat, mengatur kalender hijriah, dan mengelola wilayah yang semakin luas mendorong berkembangnya pengamatan astronomi, matematika, geografi, dan administrasi pemerintahan. Kekaguman terhadap keteraturan alam tidak berhenti pada pengakuan akan kebesaran Allah, tetapi berkembang menjadi usaha sistematis untuk memahami mekanisme alam yang diciptakan-Nya. Puncaknya tampak pada era keemasan peradaban Islam. Kekaguman terhadap keteraturan bilangan mendorong Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi mengembangkan aljabar yang kemudian menjadi fondasi matematika modern. Ketertarikan terhadap rahasia cahaya dan penglihatan mendorong Ibn al-Haytham melakukan eksperimen sistematis yang menjadikannya pelopor metode ilmiah dalam bidang optika. Kekaguman terhadap kompleksitas tubuh manusia mengantarkan Ibn Sina menyusun karya kedokteran monumental yang menjadi rujukan dunia selama berabad-abad. Sementara itu, keingintahuan terhadap bentuk bumi, pergerakan benda langit, dan keragaman masyarakat mendorong Al-Biruni melakukan pengukuran, observasi, dan penelitian yang sangat maju pada masanya. Hal yang sama dapat ditemukan pada Jabir ibn Hayyan dalam bidang kimia, Al-Razi dalam bidang kedokteran klinis, maupun Ibn Khaldun dalam kajian sejarah dan masyarakat. Mereka tidak puas hanya mengagumi ciptaan Allah, melainkan berusaha memahami hukum-hukum yang bekerja di dalamnya melalui observasi, eksperimen, pengukuran, analisis, dan penalaran kritis.

Salah satu pertanyaan besar yang sering muncul dalam diskursus peradaban Islam adalah mengapa umat Islam yang pernah memimpin perkembangan ilmu pengetahuan dunia kini justru banyak tertinggal dalam bidang sains, teknologi, dan inovasi. Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah Iqra’ (bacalah), sebuah seruan yang seharusnya menjadi fondasi lahirnya masyarakat berilmu dan berperadaban maju. Secara historis, kondisi ini tentu tidak dapat dijelaskan secara sederhana, karena melibatkan faktor politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan yang saling berkaitan. Namun demikian, salah satu faktor penting yang layak mendapat perhatian adalah semakin melemahnya kemampuan umat Islam dalam menerjemahkan spirit Iqra’ sebagai dorongan untuk membangun tradisi keilmuan yang kreatif, kritis, dan produktif. Akibatnya, makna Iqra’ yang semula bersifat transformatif perlahan menyempit menjadi sekadar aktivitas membaca teks. Membaca tidak lagi dipandang sebagai pintu masuk menuju penyelidikan ilmiah, melainkan sering berhenti pada penguasaan informasi dan pengulangan pengetahuan yang sudah tersedia.

Pada masa-masa awal Islam hingga era keemasan peradaban Islam, perintah Iqra’ dipahami secara luas dan dinamis. Membaca tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas memahami teks keagamaan, tetapi juga membaca alam semesta, membaca masyarakat, membaca sejarah, dan membaca berbagai fenomena kehidupan. Kesadaran inilah yang mendorong lahirnya tradisi observasi, eksperimen, pengukuran, pencatatan, dan pengembangan teori dalam berbagai disiplin ilmu.

“Membaca tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas memahami teks keagamaan, tetapi juga membaca alam semesta, membaca masyarakat, membaca sejarah, dan membaca berbagai fenomena kehidupan”.

Namun dalam perjalanan sejarah, orientasi keilmuan tersebut mengalami pergeseran. Setelah masa kejayaan peradaban Islam, berbagai konflik politik, fragmentasi kekuasaan, invasi asing, serta melemahnya lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian menyebabkan tradisi ilmiah mengalami kemunduran. Dalam situasi tersebut, energi intelektual umat Islam lebih banyak diarahkan pada upaya mempertahankan warisan yang telah ada daripada menghasilkan pengetahuan baru. Budaya penelitian secara perlahan melemah dan digantikan oleh budaya reproduksi pengetahuan. Aktivitas belajar sering kali berfokus pada menghafal, mensyarah, dan mengulang pendapat-pendapat ulama terdahulu, sementara keberanian untuk mengembangkan, mengkritisi, dan menemukan gagasan baru semakin berkurang. Kemunduran tradisi ilmiah ini, semakin diperparah oleh munculnya dikotomi keilmuan yang berlangsung cukup lama dalam sebagian tradisi pendidikan Islam.

Membangun Budaya Riset dan Inovasi

Selain itu, sebagian umat Islam masih terjebak pada pola keberagamaan yang lebih menekankan kekaguman daripada penyelidikan. Fenomena alam sering dipandang sebagai bukti kebesaran Allah yang hanya cukup untuk dikagumi dan renungan spiritual. Fenomena alam seringkali belum menjadi objek penelitian yang perlu dipahami mekanismenya. Akibatnya, rasa takjub yang seharusnya menjadi titik awal lahirnya pertanyaan ilmiah sering berhenti pada ekspresi emosional semata. Padahal sejarah menunjukkan bahwa para ilmuwan Muslim terdahulu justru menjadikan kekaguman terhadap ciptaan Allah sebagai alasan untuk melakukan observasi, eksperimen, dan penelitian yang mendalam. Mereka tidak hanya bertanya “siapa yang menciptakan”, tetapi juga “bagaimana ciptaan itu bekerja” dan “hukum apa yang mengaturnya”.

Di sisi lain, dunia modern bergerak dengan logika yang sangat kompetitif dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara-negara yang berhasil membangun budaya riset, inovasi, dan pengembangan teknologi terus melaju meninggalkan negara-negara yang tidak mampu menghasilkan pengetahuan baru. Dalam konteks ini, ketertinggalan umat Islam bukan semata-mata karena kurangnya sumber daya, melainkan juga karena belum optimalnya transformasi nilai Iqra’ menjadi budaya ilmiah yang hidup dalam sistem pendidikan, lembaga penelitian, dan kehidupan sosial. Perintah membaca telah banyak dikutip, tetapi semangat meneliti, menguji, menemukan, dan menciptakan belum sepenuhnya menjadi karakter kolektif umat. Karena itu, harapan akan adanya kebangkitan umat Islam di masa depan tidak cukup hanya dengan memperbanyak slogan tentang pentingnya membaca. Tidak kalah urgen diperlukan hadirnya sistem pendidikan yang mampu mengakhiri dikotomi keilmuan yang selama ini memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Semangat Iqra’ sesungguhnya adalah keniscayaan integrasi antara pembacaan wahyu dan pembacaan realitas, antara kesalehan spiritual dan penguasaan sains, teknologi, serta ilmu-ilmu sosial. Lembaga pendidikan Islam perlu menjadi ruang tumbuhnya budaya ilmiah yang mendorong rasa ingin tahu, berpikir kritis, penelitian, dan inovasi, sehingga peserta didik tidak hanya mampu memahami ajaran agama dengan baik, tetapi juga mampu membaca, menganalisis, dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Nuryanto adalah Mahasiswa S3 UIN Raden Mas Said Surakarta

Author

Tinggalkan Tanggapan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *