Senin, 20 Juli 2026 “Pena adalah jembatan menuju peradaban.” Alinea-Cordova

Berpartisipasi dalam Membangun Peradaban Bangsa

Agama

NILAI PERILAKU ISLAMI UNTUK MENINGKATKAN MUTU LULUSAN SMK

Irfan Moch Noor

Setiap kali membicarakan peningkatan mutu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), perhatian publik hampir selalu tertuju pada pembaruan kurikulum, modernisasi peralatan praktik, digitalisasi pembelajaran, hingga penguatan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri. Berbagai kebijakan tersebut memang penting sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing lulusan. Namun, satu pertanyaan mendasar masih layak diajukan: mengapa lulusan SMK yang semakin banyak dibekali sertifikasi kompetensi masih menghadapi tantangan besar dalam memasuki dan bertahan di dunia kerja?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan jika melihat kondisi ketenagakerjaan di Jawa Barat. Sebagai provinsi dengan kawasan industri terbesar di Indonesia, Jawa Barat masih mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6,74 persen pada Februari 2025, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Ironisnya, lulusan SMK masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yaitu 12,42 persen. Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan vokasi tidak hanya terletak pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga pada kualitas lulusan secara menyeluruh.

Inovasi pendidikan vokasi selama ini lebih banyak dipahami sebagai pembaruan teknologi, kurikulum, atau metode pembelajaran. Padahal, dalam perspektif manajemen mutu, inovasi tidak selalu berbentuk perubahan fisik atau teknologi. Inovasi juga dapat diwujudkan melalui transformasi budaya organisasi yang mampu membentuk perilaku seluruh warga sekolah secara berkelanjutan. Di sinilah nilai-nilai perilaku dalam Islam menawarkan pendekatan yang layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu lulusan SMK. Nilai perilaku Islam tidak semestinya diposisikan hanya sebagai materi pembelajaran agama atau pembentukan karakter yang berdiri sendiri. Sebaliknya, nilai tersebut dapat diintegrasikan sebagai budaya mutu (quality culture) yang menjadi fondasi seluruh proses pendidikan. Ketika nilai-nilai itu hidup dalam kepemimpinan sekolah, proses pembelajaran, hingga praktik kerja industri, maka kompetensi yang dimiliki peserta didik akan diperkuat oleh karakter profesional yang dibutuhkan dunia kerja.

Nilai pertama adalah amanah, yaitu sikap dapat dipercaya dalam menjalankan tanggung jawab. Dalam lingkungan sekolah, amanah tercermin melalui budaya disiplin, kepatuhan terhadap aturan, komitmen menyelesaikan tugas, serta kesungguhan menjaga kualitas pekerjaan. Bagi dunia industri, amanah merupakan modal utama dalam membangun kepercayaan antara pekerja dan perusahaan. Lulusan yang kompeten tetapi tidak dapat dipercaya akan sulit berkembang dalam lingkungan kerja yang menuntut akuntabilitas tinggi.

Nilai kedua adalah ihsan, yakni semangat memberikan hasil terbaik dalam setiap pekerjaan. Ihsan mendorong seseorang untuk tidak sekadar memenuhi standar minimum, tetapi selalu berupaya meningkatkan kualitas diri dan hasil kerjanya. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional, sempurna, dan tuntas).” (HR.Thabrani).Dalam konteks pendidikan vokasi, nilai ini sejalan dengan prinsip continuous improvement yang menjadi roh manajemen mutu modern. Budaya ihsan akan membentuk lulusan yang adaptif, memiliki etos kerja tinggi, dan tidak cepat puas terhadap pencapaian yang telah diraih.

Nilai ketiga adalah sidiq atau kejujuran. Kejujuran bukan sekadar persoalan moral, melainkan fondasi profesionalisme. Dunia industri dibangun di atas kepercayaan terhadap data, laporan, kualitas produk, serta tanggung jawab setiap individu. Lulusan yang menjunjung tinggi sidiq akan lebih mampu menjaga integritas dalam bekerja, menghindari manipulasi, dan membangun reputasi profesional yang berkelanjutan.

Peran Nilai dalam Inovasi pengelolaan SMK

Langkah pertamaadalah mengintegrasikan nilai perilaku Islam ke dalam sistem manajemen sekolah, bukan hanya ke dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Nilai amanah, ihsan, dan sidiq perlu diterjemahkan menjadi indikator perilaku yang diterapkan dalam pembelajaran, tata tertib sekolah, penilaian peserta didik, hingga budaya kerja seluruh warga sekolah. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak lagi bersifat normatif, tetapi menjadi bagian dari sistem yang dijalankan setiap hari.

Langkah kedua adalah memperkuat kepemimpinan berbasis keteladanan. Kepala sekolah dan guru memegang peran penting dalam membangun budaya organisasi. Nilai-nilai perilaku tidak akan tumbuh melalui slogan atau spanduk motivasi, melainkan melalui konsistensi sikap para pemimpin pendidikan dalam menjalankan amanah, menunjukkan profesionalisme, dan menjaga integritas.

“Pada akhirnya, peningkatan mutu SMK tidak cukup hanya mengandalkan investasi pada teknologi, fasilitas, atau pembaruan kurikulum”.

Langkah ketiga adalah memperluas makna kompetensi lulusan. Selama ini keberhasilan SMK sering diukur melalui sertifikat kompetensi atau tingkat serapan kerja. Ke depan, indikator tersebut perlu dilengkapi dengan penilaian terhadap perilaku profesional selama proses pembelajaran maupun Praktik Kerja Lapangan (PKL). Dunia usaha dan dunia industri tidak hanya membutuhkan pekerja yang kompeten, tetapi juga individu yang mampu bekerja dengan jujur, bertanggung jawab, dan memiliki komitmen terhadap kualitas.

Pada akhirnya, peningkatan mutu SMK tidak cukup hanya mengandalkan investasi pada teknologi, fasilitas, atau pembaruan kurikulum. Ketiga aspek tersebut memang penting, tetapi akan kehilangan makna apabila tidak ditopang oleh budaya perilaku yang kuat. Nilai-nilai perilaku dalam Islam menawarkan perspektif baru bahwa mutu lulusan tidak hanya dibangun melalui penguasaan kompetensi, tetapi juga melalui pembentukan budaya organisasi yang melahirkan integritas, tanggung jawab, dan etos kerja. Sudah saatnya inovasi pendidikan vokasi dipahami secara lebih luas. Inovasi bukan hanya tentang menghadirkan sesuatu yang baru, tetapi juga tentang mengelola nilai-nilai yang telah lama hidup dalam tradisi Islam menjadi kekuatan nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan. Ketika amanah menjadi budaya kerja, ihsan menjadi semangat berkinerja, dan sidiq menjadi standar profesionalisme, SMK tidak hanya akan menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga pribadi yang mampu dipercaya, berdaya saing, dan memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.

Irfan Moch Noor adalah pegiat dan pemerhati pendidikan vokasi. Mahasiswa S3 UIN Raden Mas Said Surakarta

Author

Tinggalkan Tanggapan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *