Rabu, 22 Juli 2026 “Pena adalah jembatan menuju peradaban.” Alinea-Cordova

Berpartisipasi dalam Membangun Peradaban Bangsa

Opini

Kesombongan, Tekanan, dan Kebangkitan: Iran Bangkit Menjadi Kekuatan Super Power Keempat Dunia?

Sumber: https://id.wikipedia.org

Robert Pape, profesor ilmu politik dari University of Chicago, mengguncang pembaca dunia melalui tulisannya di The New York Times berjudul “The War Is Turning Iran Into a Major World Power” (10/4/2026). Argumennya sederhana namun mengejutkan. Perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran justru tidak melemahkan Teheran, melainkan secara paradoksal mendorongnya naik ke panggung kekuatan global keempat, sejajar dengan Amerika Serikat, China, dan Rusia.

Pape membangun argumentasinya di atas tiga pilar utama. Pertama, kendali geografis Iran atas Selat Hormuz telah berubah menjadi senjata asimetris yang luar biasa efektif. Dengan teknologi drone dan ranjau yang murah namun sulit dihancurkan sepenuhnya, Iran kini mampu menjalankan “blokade selektif”, yakni menentukan kapal negara mana yang boleh melintas dan mana yang akan ditenggelamkan berdasarkan kepatuhan politik. Prancis dan India, misalnya, dilaporkan terpaksa melakukan semacam “kowtow diplomatik” (tindakan penyerahan diri untuk patuh) demi mengamankan pasokan minyak mereka.

 Kedua, Iran mengendalikan sekitar 20 persen pasokan minyak global yang melintas di selat tersebut. Bila dikombinasikan dengan Rusia yang menguasai 11 persen, keduanya bersama-sama dapat memblokade 30 persen minyak dunia dari jangkauan Barat, sementara China berperan sebagai penyerap utama sekaligus penyimpan cadangan devisa Iran senilai 75 hingga 100 miliar dolar.

Ketiga, serangan udara AS justru memicu nasionalisme “Iran-First” yang mengonsolidasi rezim dari dalam, bukan meruntuhkannya. Pape menyebut dinamika ini sebagai “Escalation Trap”, perangkap eskalasi di mana setiap serangan militer tambahan justru memperkuat musuh yang hendak dikalahkan.

Analisis Pape yang sering berulang disampaikan, termasuk artikelnya yang terbaru dapat diuji dengan sejumlah kritik dan dukungan. Sina Azodi dari George Washington University mendukung tesis ini dengan merujuk pada data historis bahwa pemaksaan melalui kekuatan udara saja nyaris tidak pernah menghasilkan penyerahan politik (Responsible Statecraft, 27/2/2026). Sebaliknya, RAND Corporation dan Colin Dueck dari George Mason University mengkritik keras kerangka strategis Pape, dengan berargumen bahwa strategi “offshore balancing” yang ia usung justru mendorong musuh untuk mengisi kekosongan kekuatan yang ditinggalkan AS. Sementara itu, majalah TIME melaporkan kekhawatiran Pape bahwa serangan Presiden Trump berpotensi meradikalisasi rezim Iran alih-alih menumbangkannya, sebuah skenario bumerang yang paling ditakuti para perencana strategi di Washington (time.com, 3/3/2026).

Jika prediksi Pape benar, geopolitik negara-negara Teluk tidak akan pernah kembali seperti sediakala. Dari keseimbangan kekuatan yang rapuh, kawasan ini akan bergeser menuju hierarki baru di mana Iran berada di puncak. Pangkalan militer AS di Kuwait, Qatar, dan Bahrain yang selama ini menjadi tulang punggung keamanan Teluk kini berada dalam posisi rentan, sementara kapal induk Amerika terpaksa beroperasi ribuan mil dari garis depan. Dalam kondisi demikian, fenomena bandwagoning, ikut berpihak kepada pemenang, menjadi tak terhindarkan. Negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi dan UEA kemungkinan besar akan mulai menyesuaikan diri dengan realitas baru, yakni Iran sebagai hegemon nuklir-minyak yang harus diakomodasi, bukan dilawan. Abraham Accords yang selama ini menjadi kebanggaan diplomasi Amerika terancam menjadi sekadar artefak bersejarah yang kehilangan relevansinya.

Blessing in Disguise

Sejarah berulang kali mengajarkan bahwa kesombongan pada akhirnya melahirkan kekuatan lawan untuk mengimbangi. Di sinilah kita menemukan apa yang acap disebut blessing in disguise, berkat yang tersembunyi di balik bencana. Tekanan sanksi, serangan udara, dan isolasi internasional yang selama puluhan tahun diderita Iran nyatanya berfungsi sebagai kawah pelebur yang menempa ketangguhan nasional.

Arnold J. Toynbee memberikan kerangka konseptual yang paling tepat untuk memahami fenomena ini. Dalam teorinya tentang “Challenge and Response” (Tantangan dan Tanggapan), Toynbee berargumen bahwa peradaban besar tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari respons kreatif terhadap tantangan yang hampir menghancurkan (A Study of History, 1961). Iran, dalam pandangan Toynbee, memiliki apa yang ia sebut sebagai “genius for empire-building”, jejak genetik peradaban yang telah teruji sejak Kekaisaran Akhemenid, adidaya pertama dunia yang memperkenalkan sistem komunikasi dan tata kelola lintas benua. Setiap kali Iran tersungkur, diserbu Alexander, ditaklukkan Arab, diinvasi Mongol, ia selalu bangkit dalam wujud yang lebih canggih. Masa Abbasiyah pun Toynbee sebut sebagai “kekaisaran Iran di bawah lapisan Arab” (Toynbee, The First Iranian Empire, 1974).

Dalam konteks modern, serangan udara AS dan Israel tidak menghancurkan “minoritas kreatif” Iran, seperti para insinyur, ilmuwan, dan perancang strategi yang justru semakin terpacu oleh tekanan untuk berinovasi. Jared Diamond, di sisi lainnya,  melengkapi analisis ini dari sudut materialis-geografis. Diamond menegaskan bahwa keunggulan suatu peradaban bukan berasal dari keistimewaan ras, melainkan dari faktor lingkungan dan geografi (Diamod, Guns, Germs, and Steel, 1974). Iran adalah pewaris langsung Hilal Subur, kawasan domestikasi tanaman dan hewan tertua di dunia, yang memberikan head start ribuan tahun dalam pembentukan masyarakat yang padat, tersentralisasi, dan maju secara teknologi.

Topografi Iran yang ekstrem, dari dataran rendah pesisir hingga pegunungan Zagros dan Alborz yang bersalju, menciptakan keanekaragaman ekologis yang menjamin ketahanan sumber daya sejak zaman kuno. Dan yang paling relevan untuk memahami Iran hari ini, Diamond menekankan bahwa bom dapat menghancurkan infrastruktur fisik, tetapi tidak dapat menghancurkan pengetahuan dan teknologi yang telah tertanam dalam DNA intelektual suatu bangsa. Itulah mengapa industri pertahanan Iran, dari drone Shahed hingga rudal balistik presisi, terus berkembang justru di bawah rezim sanksi paling keras dalam sejarah modern.

Indonesia dan Pelajaran dari Iran, Geografi sebagai Takdir Strategis

Yang terjadi pada Iran sesungguhnya bukanlah kisah tentang revolusi Islam atau ambisi nuklir semata. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah bangsa berhasil mengubah tekanan menjadi daya ungkit, dan geografi menjadi kekuasaan. Dan pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia.

Jika Selat Hormuz adalah kartu truf Iran, maka Indonesia memegang tangan yang bahkan lebih kuat. Lebih dari 70 persen lalu lintas ekonomi dunia, kapal tanker, peti kemas, kapal kargo, melintas melalui perairan Indonesia. Mulai dari Selat Malaka di barat hingga Selat Lombok dan Selat Makassar di timur. Setiap tahun, triliunan dolar nilai perdagangan global bergantung pada keamanan dan keterbukaan jalur-jalur ini. Namun, tidak seperti Iran yang telah mengonversi kendali geografisnya menjadi instrumen kekuasaan nyata, Indonesia selama ini lebih banyak berperan sebagai penonton, bahkan terkadang sebagai objek, dari dinamika kekuatan besar yang bermain di halamannya sendiri.

Dalam kerangka Toynbee, Indonesia masih menunggu tantangan yang cukup besar untuk memicu respons kreatif yang transformatif. Dalam logika Diamond, Indonesia memiliki semua prasyarat geografis dan historis untuk bangkit sebagai kekuatan besar, warisan kerajaan maritim Sriwijaya dan Majapahit, keanekaragaman sumber daya alam yang luar biasa, dan posisi di persimpangan dua samudra. Yang masih absen adalah kesadaran strategis bahwa geografi bukan hanya warisan pasif, melainkan aset aktif yang harus dikelola dengan visi dan ketegasan.

“Koalisi Barat yang yakin dapat menaklukkan Iran melalui sanksi dan bom kini menyaksikan Teheran justru muncul sebagai kekuatan keempat dunia”

Sejarah memang seringkali mengajarkan bahwa kesombongan kekuatan besar pada akhirnya melahirkan kekuatan penyeimbang. Amerika yang merasa tak terkalahkan di Vietnam terjebak dalam lumpur perang asimetris selama satu dasawarsa. Koalisi Barat yang yakin dapat menaklukkan Iran melalui sanksi dan bom kini menyaksikan Teheran justru muncul sebagai kekuatan keempat dunia (menurut Robert Pape, 2026). Pola ini bukan kebetulan, ini adalah hukum geopolitik yang berulang. Bagi Indonesia, pelajarannya jelas bahwa kekuatan sejati tidak hanya diukur dari besarnya anggaran pertahanan atau kecanggihan persenjataan, melainkan dari kemampuan sebuah bangsa untuk mengubah tekanan menjadi ketangguhan, dan geografi menjadi kedaulatan. Iran telah membuktikannya. Kini giliran Indonesia untuk membaca peta sejarahnya sendiri, dan berani bertindak berdasarkan apa yang terbaca di sana.

Mudhofir Abdullah adalah Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta

Author

1 Tanggapan

Tinggalkan Tanggapan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *