Di tengah anjloknya nilai tukar rupiah yang menembus rekor terendah sepanjang sejarah—menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan 4 Juni 2026 (Refinitiv via berbagai pemberitaan)—Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih menampilkan sikap tenang dan menolak narasi kepanikan. Ia berulang kali menegaskan bahwa pelemahan ini masih berada dalam rentang perhitungan pemerintah, seraya mengingatkan bahwa asumsi kurs APBN 2026 yang semula dipatok Rp16.500 telah disesuaikan melalui berbagai simulasi setelah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah (Kompas TV, 5/6/2026). Dalam pernyataan yang menjadi sorotan, Purbaya meminta masyarakat tidak risau dan justru menempatkan tekanan kurs sebagai persoalan eksternal, bukan cerminan fundamental domestik: “Nggak usah takut, fundamental ekonomi kita bagus, fiskal kita bagus,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan, sambil menonjolkan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 sebesar 5,6 persen sebagai bukti ketahanan ekonomi (Suara.com, 18/5/2026). Pertanyaan yang patut diajukan: sejauh mana retorika “tetap tenang” ini sejalan dengan realitas pasar yang justru memasang posisi jual terhadap rupiah dengan sentimen negatif terkuat sejak Oktober 2022 (Reuters via Kompas.id, 28/5/2026)?
Dari sisi langkah konkret, Purbaya mengandalkan koordinasi erat dengan Bank Indonesia melalui intervensi pasar—pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder, operasi pasar SBN yang menyerap Rp2,22 triliun dalam tiga hari, serta penerbitan global bond yang ditawar asing hingga US$2 miliar lebih—sebagai katalis masuknya valas untuk memperkuat kurs (Kompas/Investor Trust, 19/5/2026). Ia bahkan secara terbuka mengimbau pelaku pasar agar tidak menimbun dolar, dengan peringatan bahwa penyimpan dolar tidak akan untung karena rupiah dinilainya akan segera menguat. Soal kepercayaan diri, jawabannya tegas: Purbaya masih optimistis. Ia memproyeksikan rupiah dapat menguat kembali dalam dua hingga tiga bulan ke depan seiring potensi meredanya konflik AS–Iran–Israel, dengan keyakinan eksplisit, “Saya percaya dalam dua atau tiga bulan akan jauh lebih baik daripada sekarang… dan juga rupiah bisa lebih kuat,” yang disampaikannya dalam konferensi pers di Wisma Danantara (Suara.com, 3/6/2026). Sebelumnya ia bahkan menyebut target penguatan ke level Rp15.000 per dolar AS (Suara.com, 23/5/2026). Namun perlu dicatat, dan ini saya tandai sebagai konteks yang masih bersifat rumor sehingga belum terkonfirmasi, optimisme tersebut muncul bersamaan dengan beredarnya isu pencopotan dirinya yang dibantah Komisi XI DPR sebagai sekadar kabar burung (Suara.com, 4/6/2026).
